Oray-orayan Tisna

Hacim… hacim… hacim…! Bersin sahut-menyahut di ruang pameran lantai dasar Erasmus Huis, Ja karta, Ahad pekan lalu. ” – Serbuk arang, kayu manis, kunyit, cempaka, hingga merica beterbangan di udara, menggelitik hidung penonton. Serbuk-serbuk itu adalah elemen utama dalam seni performance Tisna Sanjaya bersama Komunitas Jeprut asal Bandung.

Tisna dan anggota Komunitas Jeprut, juga beberapa penonton, menari-nari mengelilingi selembar kanvas putih ukuran sekitar 3 x 2 meter, ditingkahi tembang Sunda. Di atas kanvas, terbentang kelambu hitam. Sejumlah lesung tersusun rapi memagari kanvas. Lesung-lesung itu berisi butiran beras, serbuk arang, dan berbagai rempah lainnya. Mula-mula Tisna melaburkan cat putih di atas kanvas.

Negosiasi Demi ME TIME

Rasa cinta, jiwa humoris, dan sikap toleransi hendaknya dimanfaatkan untuk mengemas komunikasi yang kreatif pada pasangan dalam memperjuangkan me time Mama. Me time bisalah di- mirip-mirip- kan dengan itu cuti. Ya, seperti halnya seorang pekerja kantoran yang mengambil hak cutinya.

Baca juga : Beasiswa s2 Jerman

Meskipun begitu, pada kenyataannya banyak mama yang mengartikan me time sebagai sebuah kegiatan paling berharga. It’s precious! Sebagian kita juga mengalami sendiri, bahwa sebenarnya enggak ada tuh kata “cuti” ketika seorang perempuan memutuskan untuk menjadi IBU. Selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan, enggak ada yang namanya libur seperti tanggal merah atau hari besar. Padahal, banyak ahli mengatakan, me time memungkinkan Mama menda pat kan keseimbangan an tara emosi, pikiran, dan kesehatan fi sik.

Penelitian di Inggris yang dilakukan eHarmony juga mengungkap, bukanlah hal yang mudah untuk menikmati me time. Sementara, agar batin sehat rata-rata orang membutuhkannya sekitar 20 jam seminggu untuk bersantai. Mereka yang kehilangan waktu menikmati me time kebanyakan menghadapi risiko kesehatan, stres, kelelahan, dan depresi. NEGOSIASI ME TIME Jadi, bagaimana agar Mama dapat membagi waktu untuk keluarga dan me time-nya sendiri? Tak lain jawabannya adalah, lakukan negosiasi dengan diri sendiri. Della menceritakan seorang temannya yang ia anggap berhasil melakukan itu.

“Dia adalah seorang ibu yang bekerja sebagai staf ticketing di sebuah perusahaan tour & travel terkenal. Ibu tersebut terbiasa menghadapi tugas dengan beban tinggi yang harus selesai dalam waktu cepat. Pengalaman selama 10 tahun, membuatnya dapat mengenali titik kritis di pekerjaannya, termasuk meng identifi kasi waktu-waktu luang yang dapat ia manfaatkan untuk ‘memanjakan’ diri seje nak di tengah-tengah sibuknya. Pada pagi hari, ia menyempatkan diri mendatangi pusat kebugaran untuk melakukan latihan-latihan kecil sehingga merasa lebih fi t saat akan memulai pekerjaan. Pada saat makan siang, ia memakan masakannya sendiri yang telah dibawa dari rumah. Ia mengaku sangat suka ke pasar. Di situlah kenikmatan baginya, yakni saat berkreasi mencari bahan-bahan masakan yang unik untuk kebutuhan seminggu keluarganya.”

Sumber : https://ausbildung.co.id/