Bangkitnya Film-Film Non Mainstream

SELAIN memilih flm dan sutradara terbaik, kami memilih Gunawan Maryanto, yang berperan sebagai Wiji Thukul dalam Istirahatlah Kata-kata, sebagai aktor terbaik. Gunawan tampil bersinar. Dalam flm berdurasi sekitar dua jam itu, dia berhasil memerankan gerak tubuh, ekspresi, dan emosi Thukul dengan sangat baik. Aktor Teater Garasi, Yogyakarta, yang juga produktif menulis puisi dan prosa itu berhasil menjadi Thukul secara fsik dan jiwa.

Perdebatan berlangsung agak liat ketika memilih aktris terbaik. Pilihan kami mengerucut pada dua kandidat: Cut Mini (Athirah) dan Marissa Anita (Istirahatlah Kata-kata). Cut Mini berhasil memerankan karakter Athirah yang kompleks, seorang ibu yang tersakiti dan di saat yang sama tetap menjadi tulang punggung keluarga. Aktingnya memang cukup memikat. Hanya, kami melihat, sebagai aktris yang kerap berperan menjadi seorang ibu, penampilannya cenderung sama dengan peran-peran sebagai ibu yang dia mainkan sebelumnya.

”Saya tidak bisa membedakan dia sebagai Athirah dengan Bu Guru dalam flm Laskar Pelangi. Seharusnya ada sesuatu yang khas dalam setiap peran yang dimainkan,” kata seorang juri. Akan halnya Marissa Anita, dalam Istirahatlah Kata-kata, kami menyaksikan penampilannya sangat berbeda. Kami tak lagi melihat Marissa sebagai seorang perempuan urban, tapi dia menjelma menjadi Sipon, istri Wiji Thukul, yang menyimpan derita ke dalam tubuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *