Category Archives: Parenting

“Jatuh Cinta” Pada Dokter Kebapakan

Tepat saat buah hatinya, Pratama Wirasanjaya Shilya Patrice Kirana Idris yang akrab disapa Shezy Idris (34), positif hamil anak kedua. (2,7), berusia 2 tahun, Kayana Rizky Kehamilan ini, jelas Shezy, secara tak langsung diberi sinyal oleh Keke, panggilan sayang buah hatinya. “Keke tiba-tiba tidak mau nyusu, sudah diakalakalin tidak mau juga. Sepertinya dia sudah tidak suka lagi dengan ASI,” kata Shezy. Tak berapa lama kemudian tubuh Shezy terasa tidak enak ditambah menstruasinya telat.

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

“Aku segera melakukan test pack dan ternyata positif hamil,” imbuhnya. Menurut Shezy, Keke mungkin sudah merasakan ada perubahan rasa ASI sehingga tidak mau menyusu lagi. “Hikmahnya, selain tahu hamil, saya pun tak perlu repot untuk menyapihnya. Dia berhenti ASI sendiri, tidak perlu ’drama’ seperti orang-orang.” Shezy memeriksakan kehamilannya pada dokter obgin yang membantunya melahirkan Keke. Dokter ini pula yang membantu mamanya saat melahirkan Shezy dan kedua adiknya, Sheza dan Yoghi Idris.

“Jadi, ini dokter keluarga kami,” ujar istri dari Krishna Adhyata Pratama (36) ini. Sebenarnya, waktu hamil anak pertama, Shezy sudah mendatangi tiga dokter obgin di rumah sakit berbeda, tetapi ia merasa lebih cocok dengan dokter yang juga menangani mamanya itu. Maka, meski jarak rumah ke tempat praktik sang dokter cukup jauh dan macet pula, Shezy tak memedulikannya. Ia sudah kadung “jatuh cinta” pada sang dokter. “Dokternya kebapakan, tenang, tidak bikin waswas, memberi obat pun seperlunya, kalau berkonsultasi juga seperti ngobrol antara anak dengan orangtua,” papar Shezy. Selain itu, tambah Shezy, sang dokter pro banget dengan melahirkan normal.

Saat hendak melahirkan anak pertama, Shezy bolak-balik rumah sakit hingga tiga kali karena merasakan mulas yang luar biasa dan sang dokter dengan setia menunggu agar Shezy dapat menjalani persalinan normal. Akan tetapi, karena Shezy sudah tidak kuat, cairan ketuban juga mulai berkurang, akhirnya orangtua Shezy meminta dokter untuk melakukan operasi sesar. Di kehamilan anak kedua ini, Shezy merasa beda banget. “Hamil anak pertama seperti kebo, bisa makan apa saja, nyium wangi-wangian juga bisa,” paparnya.

Namun, di kehamilan anak kedua ini, jangankan makan apa saja, mencium bau nasi ngebul saat lewat di foodcourt saja sudah membuatnya langsung pusing dan keliyengan. “Pokoknya, lebih ringkih dan mudah mabok, juga mudah capek,” kata pemeran ibu penjual air zamzam palsu di FTV “Air Zamzam Palsu” ini. Meski begitu, Shezy tetap merasa luar biasa di kehamilan keduanya ini. Pasalnya, meski sedang hamil, ia tetap mengurus Keke sendirian, tanpa babysitter. Tetap semangat, ya, Shezy!

Mewaspadai Meningitis Pada Bayi Bag2

Bila ada gangguan napas, misalnya, pasien akan diberi ventilator (bantuan pernapasan), dan sebagainya. Yang pasti bayi harus terus mendapat cukup cairan dan nutrisi. Apa akibat dari meningitis? Sekitar 30% bayi yang mengalami meningitis menjadi ca cat (sequelae). Namun tentu ini terkait erat dengan penyebab, usia, berat ringannya gejala, serta terlambat tidaknya penanganan yang diberikan.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Kecacatan akibat meningitis dapat berupa gangguan pendengaran, gang guan bicara, buta kor tikal, hemiparesis (ke lemahan otot pa da salah satu sisi tubuh), quadriparesis (keempat bagian tubuh lemah dari tangan kaki kanan dan kiri) yang mengakibatkan gangguan keseimbangan dan koordinasi. Penderi ta meningitis juga dapat mengalami re tardasi motorik atau perlambatan per kembangan kemampuan. Misal, bayi normal umur 3 bulan seharusnya sudah bisa berguling, tapi bayi yang ini belum bisa.

Bagaimana mencegahnya? Penyebab meningitis bermacam-macam, bi sa virus, bakteri, atau jamur. Namun penyebab terbanyak meningitis pada bayi adalah virus dan bakteri . Penularannya bisa terjadi secara langsung dengan penderita me ningitis (dari percikan ludah, dahak, ingus, bersin, atau cairan tenggorokan). Untuk pencegahan bisa dilakukan secara primer dan sekunder. Pencegahan secara primer sangat penting demi mencegah timbulnya faktor risiko dari meningitis.

Caranya mudah, yakni dengan menjaga kebersihan. Misal, Mama harus mencuci tangan sebelum meme gang bayi, mencuci tangan sebelum memberi ASI, dan bersihkan puting susu sebelum menyu sui. Bagi bayi yang menyusu dari botol, pastikan tidak berbagi botol atau peralatan minum dengan siapa pun. Bahkan, bayi kembar pun masing-masing harus memiliki alat minum/makannya sendiri-sendiri.

Jangan lupa leng kapi imunisasi bayi: imunisasi HIB (Haemophilus Influenza tipe B) untuk mencegah radang otak, PCV (untuk melindungi tubuh da ri bakteri pnemukokus yang bisa menyebabkan meningitis, pneumonia, dan infeksi telinga), serta imunisasi MMR. Untuk waktu pemberian imunisasi, kon sultasikan pada dokter ya, Ma. Oh ya, yang dimaksud pencegahan sekunder adalah mene mukan penyakit sejak dini atau deteksi dini. Karena itulah Mama perlu memerhatikan gejala-gejala meningitis yang telah diuraikan di atas. Deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat membantu men cegah meningitis atau setidaknya me minimalisasi dam paknya pada bayi.

Sumber : pascal-edu.com