Sup Daging Kembang Tahu Untuk 6 Porsi

Bahan: 300 gram daging tetelan 2.000 ml air 50 gram kembang tahu, direndam, dipotong-potong 150 gram wortel, dipotong bulat 1 batang daun bawang, dipotong 1 cm 1 batang seledri, diikat simpul 3 siung bawang putih, dicincang 1 sendok teh kecap ikan 1 sendok makan garam 1/4 sendok teh merica bubuk 1 sendok makan margarin, untuk menumis

Cara membuat: 1. Rebus daging sampai mendidih dan empuk. Masukkan seledri. Didihkan kembali. 2. Panaskan margarin, tumis bawang putih hingga harum. Tuang ke dalam rebusan daging. 3. Masukkan kecap ikan, garam dan merica. Aduk rata. 4. Masukkan wortel. Biarkan sampai lunak. 5. Menjelang diangkat, masukkan kembang tahu dan daun bawang. Aduk rata.

Sup Jagung Ayam Untuk 4 Porsi

Bahan: 150 gram jagung manis pipil 1 buah wortel, dipotong kotak 1 buah paha ayam fillet, direbus, dipotong kotak 1/4 buah bawang bombay, dicincang halus 1 cm jahe, diparut 3 1/2 sendok teh kecap asin 1/2 sendok makan garam 1/4 sendok teh merica bubuk 2 1/2 sendok makan tepung sagu dilarutkan di dalam 2 1/2 sendok makan air untuk pengental 1 batang daun bawang, dipotong 1 cm 2 putih telur, dikocok lepas 1/2 sendok teh minyak wijen 1.200 ml kaldu ayam 1 sendok makan minyak goreng untuk menumis

Cara membuat: 1. Panaskan minyak. Tumis bawang bombay dan jahe sampai harum. Tambahkan jagung manis, wortel, dan paha ayam. Aduk rata. 2. Masukkan kaldu ayam. Masak sampai mendidih. Tambahkan kecap asin, garam, dan merica bubuk. Aduk rata. Masukkan larutan tepung sagu. Masak sambil diaduk hingga meletup-letup. 3. Tambahkan putih telur sedikit-sedikit sambil diaduk sampai berserabut. Masak sampai matang. Masukkan minyak wijen dan daun bawang. Aduk rata.

Desain Interior Toko Buku ala Kontraktor Semarang CV Ratulangi Teknik

Apa saja kegiatan Tobucil?

Desain Interior Toko Buku ala Kontraktor Semarang CV Ratulangi Teknik Kita ada klub membaca, menulis, public speaking, foto cerita, hobi, dan apresiasi. Mengapresiasi karya orang itu harus dipelajari. Terkadang orang itu tidak tahu caranya mengapresiasi karya orang lain. Ketika dia memiliki kemampuan mengapresiasi orang, maka yang diapresiasi akan senang dan orang yang mengapresiasi bisa belajar. Itu akan menjadi sesuatu yang menular dan memberikan semangat baru.

Awalnya klub baca, kenapa berkembang jadi craft?

Pada tahun 2007, kita mereposisi diri. Kegiatan tidak lagi sekadar klub membaca, Tobucil melebarkan sayap menjadi ajang aktualisasi diri. Caranya lewat kegiatan hobi. Saat saya ke Amerika untuk observasi pengembangan kemampuan mendengar kebutuhan komunitas, ternyata di sana banyak toko buku seperti ini yang menjual barang-barang handmade yang dibuat oleh komunitas itu sendiri. Hal ini sangat mengispirasi saya, karena Tobucil tidak mau menerima uang dari sponsor. Dari sinilah lahir kelas-kelas merajut dan kelas craft lainnya. Saya berpikir, kalau mau punya kemandirian sikap, Anda juga harus mandiri secara ekonomi. Hal itulah yang ingin dibuktikan oleh Tobucil.

Jadi craft ini menjadi peluang kemandirian bagi Tobucil?

Ya, karena sesuai dengan karakter yang ada di Tobucil. Pada dasarnya karakteristik komunitas di Bandung itu sangat individual, memang namanya komunitas, sehingga kegiatan hobi ini sangat cocok, karena tidak ada paksaan dan orang pun senang melakukannya.

Pencapaian apa yang sudah Tobucil raih hingga saat ini di bidang craft?

Event Crafty Day adalah sebuah bukti nyata yang telah dicapai Tobucil. Pertama Crafty Day digelar hanya 10 tenant yang berpartisipasi. Dari 10 sekarang kita bisa sampai 40 tenant. Tidak hanya menjual berbagai benda craft, acara ini juga menggelar workshop dan kelas-kelas, ada workshop bikin sabun, klub dongeng, menggambar, paper craft, aksesori kain perca, dan merajut. Barang-barangnya pun berkembang, sekarang sudah banyak yang menjual aksesori rumah, home living, dan lainnya.

Kenapa memilih nama Tobucil dan tidak Tobusar (Toko Buku Besar)?

Tobucil ini ada untuk membuktikan bahwa hal-hal besar selalu berawal dari hal kecil. Tobucil memilih peran menjadi tempat memulai hal-hal kecil tersebut. Tapi tetap menjadi kecil itu bukan hal yang mudah, karena ketika sudah menginjak 13 tahun ini, kita akan mencapai satu titik di mana harus menetukan sikap, mau menjadi besar atau tetap menjadi kecil. Dan Tobucil memilih untuk menjaga komitmen dan konsistensi tetap menjadi kecil.

Toko Buku Dan Craft Yang Dilengkapi Dengan Genset

Toko Buku Dan Craft Yang Dilengkapi Dengan Genset. Harga genset yang murah untuk sebuah toko buku bisa didapatkan melalui Distributor Jual Genset Surabaya yang memberikan potongan harga dan garansi resmi.

Mendirikan sebuah toko buku adalah impiannya sejak dulu. Lambat laun, keinginan merambah bidang lain muncul, membuat usahanya tidak sekadar terkait literatur. Craft menjadi tumpuan lain usahanya. Tapi tetap menjadi kecil itu bukan hal yang mudah, karena ketika sudah menginjak 13 tahun ini, kita akan mencapai satu titik di mana harus menetukan sikap, mau menjadi besar atau tetap menjadi kecil.

Toko Buku Kecil (Tobucil), begitulah Tarlen Handayani, menamakan toko bukunya. Tobucil adalah usaha kecil miliknya yang sudah berumur 13 tahun. Selama itulah Tobucil berkembang dari yang semula hanya menjual buku dan mengadakan kelas membaca, menjadi sebuah usaha seni dan kerajinan tangan.

Awalnya sederhana, hanya membuka kelas kelas merajut dan lambat laun kelas itu menjelma menjadi sebuah pameran seni, Crafty Day namanya. Di acara inilah, para crafter dari berbagai wilayah berkumpul untuk memperkenalkan karya mereka. Namun, bukan hal yang mudah untuk mencapai itu semua. Butuh usaha dan kerja keras, serta komitmen untuk terus menjalaninya. Uniknya, Tarlen tidak pernah mengharapkan Tobucil-nya menjadi besar dan sukses.

Walaupun sebenarnya usaha miliknya sudah ‘ngetop’ dari mulut ke mulut. Rupanya Tarlen punya pemahaman lain tentang besar dan sukses ini. Wanita kelahiran 30 Maret 1977 ini tetap memilih untuk menjaga komitmen dan konsistensi untuk tetap menjadi kecil. Baginya bukan menjadi besar esensinya, tapi bagaimana ia mampu melalui setiap proses kegagalan dan bangkit untuk memulainya kembali. Bagaimana perjalanannya bersama Tobucil-nya? Inilah perbincangan dengan sosok pecinta buku sekaligus penulis ini.

Bagaimana awalnya membangun Tobucil?

Ceritanya, pada awal tahun 2000-an, saya bersama dengan 2 teman lainnya memiliki mimpi yang sama, yaitu membuka toko buku kecil. Namun, baru beberapa tahun berjalan, 2 orang teman tersebut memutuskan untuk mengundurkan diri. Akhirnya tinggal tersisa saya dan saya putuskan untuk tetap melanjutkan usaha ini. Modalnya pun kecil hanya Rp1,5 juta dan selebihnya mengandalkan jejaring pertemanan.

Apa yang membuat Tobucil bisa bertahan hingga sekarang?

Saya memiliki keyakinan kalau saya tidak bisa melewati masa ini, maka saya tidak bisa mengerjakan sesuatu yang lebih dari Tobucil. Saya percaya bahwa Tuhan itu memberikan cobaan pasti ada alasannya. Tuhan yakin kita bisa melewatinya. Ternyata di setiap kesulitan yang pernah dialami oleh Tobucil, selalu datang pertolongan yang tidak pernah saya duga. Hal itulah yang membuat saya percaya bahwa sesuatu yang dimaksudkan sebagai niat baik, akan selalu menemukan jalannya.

Ngobrol Santai Seputar Solusi Rumah Sempit bagian 2

Cara penyampaian yang tenang dan santai membuat pembaca yang hadir merasa nyaman dan bebas mengungkapkan masalah mereka. Lita misalnya, yang bertanya mengenai desain renovasi ideal untuk rumah tipe 36 dan luas tanah 100m2. Adapula Mila yang berbagi pengalaman saat menempati rumah sempit.

Mila mengungkapkan, saat tinggal di rumah sempit, untuk mengakalinya ia pun mengatur area penyimpanan dan memanfaatkan lahan sisa. Sekarang, ia pindah ke rumah yang besar, namun ia justru kerepotan. “Rumah besar belum tentu enak, ketika sudah terbiasa dengan rumah sempit, rumah besar malah bingung mau diapain,” ujar Mila. Acara yang digelar selama 2 jam ini pun diakhiri pemberian doorprize dan hadiah pada para pembaca.

Ngobrol Santai Seputar Solusi Rumah Sempit yang dilengkapi dengan Genset Jakarta

Meskipun rumah sempit namun tetap nyaman karena adanya sebuah genset dari Jakarta. Harga genset yang murah bisa didapatkan dari Agen resmi Jual genset Jakarta yang memberikan garansi serta potongan harga.

Menggelar ajang bertajuk Sharing Day, pada ngobrol santai yang 5 Maret silam, di Kafe Crematology, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Acara yang mengusung tema “Solusi Rumah Sempit” ini dihadiri oleh pembaca yang ingin berbagi kisah mengenai pengalaman mereka seputar rumah sempit. Untuk memberikan solusi tambahan dan pengetahuan baru kepada pembaca yang hadir, menggandeng arsitek dari A-Two Architect, Ayi Asmoro, sebagai pembicara ahli.

Acara dimulai pukul 14.30, Mas Ayi, sapaan akrabnya, memberikan kesempatan kepada pembaca yang hadir untuk bertanya seputar masalah rumah sempit. Permasalahan demi permasalahan pun diutarakan para pembaca, seperti teras yang berubah menjadi garasi, masalah renovasi di lahan terbatas, pengairan dan sanitasi, dan sebagainya. Antusiasme pembaca semakin terlihat saat Ayi mulai membeberkan satu per satu solusi rumah sempit.

Ubah Persepsi

Ayi menuturkan, hal pertama yang dapat dilakukan untuk mengatasi rumah sempit adalah mengubah persepsi mengenai defi nisi rumah sempit tersebut. Mengubah mind set mengenai rumah sempit adalah suatu permulaan yang baik. “Rumah sempit itu hanya persepsi kita semata, yang penting bagaimana kita melihatnya,” ujar Ayi mengawali acara. Ya, rumah akan terlihat lapang dengan bagaimana kita melihatnya. Bila kita cermat melihat ruang-ruang yang dirasa bisa dimanfaatkan, berarti kita sudah sukses mengubah persepsi mengenai rumah sempit.

Selanjutnya adalah mulai mengukur aktivitas keseharian, berapa luas lahan yang Anda butuhkan untuk aktivitas tersebut. Singkirkan ruang-ruang yang tidak dibutuhkan, yakni dengan menggabungkan 2 fungsi ruang menjadi 1, atau membangun ruang sesuai kebutuhan saja. Ruang kerja misalnya yang bisa digabungkan dengan ruang tidur, atau dapur dengan ruang makan.

Berpikir 3D

Denah memiliki peranan penting dalam tata letak dan pengelolaan ruang di rumah. Namun ketika Anda dihadapkan pada gambar 2D, ruang gerak Anda dalam memikirkan ide-ide pengolahan ruang tidak keluar sempurna. Oleh sebab itu, Ayi menyarankan pembaca untuk berpikir secara 3 dimensi, yakni terjun langsung ke lapangan untuk mengolah ruang-ruang mati yang berpotensi menjadi ruang fungsional.

“Ketika kita berada langsung di dalam ruang, kita dapat melihat area-area mana saja yang tersisa dan berpotensi menjadi ruang sisa,” ujar Ayi lagi. Solusi demi solusi dibeberkan Ayi dengan gamblang, seperti pemilihan warna, memilih furnitur yang memiliki fungsi ganda, aplikasi ilusi optik—cermin, mengolah barang-barang bekas menjadi berdaya guna, dan sebagainya. Bahkan, tidak hanya Ayi yang memberikan solusi rumah sempit, pembaca yang datang pun silih berganti berbagi pengalaman mengatasi rumah sempit tersebut.